Hoi An | kota Champa tua ditepi laut Cina Selatan.

•December 24, 2009 • Leave a Comment

Champa merupakan nama yang tidak asing di telinga kita. Nama Champa mengingatkan kita akan masa kejayaan kerajaan Majapahit. Salah satu istri dari raja Majapahit adalah seorang puteri Champa yang terkenal akan kecantikannya saat jaman itu. Selain itu Champa merupakan tempat kelahiran dari Sunan Ampel atau Raden Rachmat yang merupakan salah satu sesepuh dari Walisongo.

Dimanakah sebenarnya letak negri Champa itu? Dulu, Champa adalah kerajaan yang berdiri di abad ke-7, yang memiliki kekuasaan di daerah Vietnam tengah dan selatan. Konon leluhur dari bangsa Champa itu berasal dari pulau Jawa, yang hijrah ke Asia Tengah pada abad ke-2 sebelum masehi.

Pada jamannya, orang Champa dikenal keahliannya dalam hal bercocok tanam dan membuat bangunan. Hingga saat ini hasil karya bangsa Champa masih terlihat utuh, berupa candi-candi peninggalan masa lalu yang kini dijadikan object wisata yang menarik di negara Vietnam.

Champa dahulu dikenal sebagai kerajaan yang memiliki pelabuhan besar yang memegang peranan niaga yang penting di Asia Tenggara. Perdagangan rempah-rempah antar daerah banyak dilakukan dipelabuhan Champa. Oleh karenanya, Champa merupakan jalur penghubung penting dalam jalur rempah-rempah yang dimulai dari Teluk Persia sampai dengan selatan Tiongkok. Champa merupakan jalur pendistribusian, perdagangan bangsa Arab ke pedalaman Indochina. Pelabuhan terbesar di Asia Tenggara itu pada zamannya dikenal para pedagang sebagai kota Champa disebut juga kota pelabuhan.

Setelah mengalami masa pasang surut, akhirnya Champa dikuasai oleh kerajaan dari utara. Rakyat Champa menyebar ke selatan disekitar delta sungai Mekong, dan sebagian didaerah pegunungan Kamboja. Sekarang ini kota pelabuhan itu disebut Hoi An,yang artinya kota yang terletak di pinggir laut.

Pada masa perang Indochina dan perang Vietnam, banyak bangunan yang hancur akibat serangan bom tentara Amerika. Selama lebih dari seratus tahun dalam masa penjajahan Perancis dan Amerika, sebagai kota pelabuhan yang pernah berjaya di zamannya, Hoi An telah terlupakan. Demikian juga setelah mencapai kemerdekaan Vietnam dari Perancis dan Amerika, Hoi An tertinggal dari jauh dari kemajuan kota-kota lainnya di Vietnam.

Pada tahun 1999, kota tua Hoi An dinyatakan sebagai kota warisan dunia, menjadi contoh dari kota tua yang tetap bertahan dengan bangunan lama yang menggambarkan keutuhan arsitek jaman dahulu dengan gaya bangunan yang dipengaruhi negeri lain.

Saat ini Hoi An dikenal menjadi kota wisata bangunan tua. Selain memiliki bangunan yang unik, kota ini menyediakan berbagai cenderamata berupa ukiran kayu, lukisan cat dan juga lukisan sulaman yang sangat indah. Sebagai kota wisata pada umumnya, Hoi An juga memiliki berbagai jenis makanan yang lezat, semua ini dapat dijumpai disana. Makan malam di remang-remang kota tua sungguh terasakan romatika malamnya. Ini yang membuat Hoi An menjadi salah satu kota wisata yang paling memikat di Vietnam.

Jika anda menyukai mode pakaian, Hoi An merupakan tempat pilihan. Disini tersedia banyak penjahit ahli yang siap memberikan keahlian membuat bermacam model pakaian yang baik dengan harga yang sangat murah. Namun tetap, kehati-hatian dalam memilih bahan pakaian sangatlah diperlukan, untuk dapat menghasilkan suatu karya model pakaian yang indah bagi pembelinya..

Penduduk Hoi An juga dikenal keahliannya dalam membuat bermacam jenis lampu lantera yang indah. Pesta lantera dilakukan pada hari pertama sebelum bulan purnama. Biasanya acara tersebut, semua penduduk di kota Hoi An akan menyalakan bermacam lentera didepan rumah mereka. Salah satu acara yang menarik adalah melarungkan lantera ke sungai Thu Bon, sebagai persembahan doa untuk masa depan yang lebih baik.

Dipusat kota tua Hoi An, kendaraan bermotor tidak boleh dipergunakan. Hanya sepeda saja yang diperbolehkan masuk didalam kota tua. Suasana tersebut membuat pengunjung terasa benar terbuai ke masa silam, zaman dimana kendaraan bermotor belum di ketemukan.

Kota Hoi An dapat dicapai dengan menggunakan pesawat udara dari Saigon dan mendarat di kota Hue. Dari Hue, pengunjung dapat menggunakan bus selama 4 jam perjalanan menuju arah selatan selatan. Bagi wisatawan yang memiliki banyak waktu, perjalanan lebih menarik dapat dilakukan dari Saigon dengan mengendarai bus ke utara. Melalui kota wisata pinggir pantai Mui ne yang terkenal dengan padang pasirnya, dan melewati Na thrang tempat pelaksanaan mis Universe di tahun 2008. Kota wisata pantai yang merupakan Balinya Vietnam.

Untuk penginapan di Hoi An, banyak terdapat hotel melati dengan harga 1sekitar 10-15 US$ dengan fasilitas kolam renang, air conditioning dan wi-fi. Menu makanan berkisar Rp. 25,000 – Rp. 50,000 masih lebih murah dari restorant di daerah wisata di negri kita. Umumnya wisatawan datang dari Eropa dan Jepang, namun ada juga jumlah kecil dari negara tetangga lainnya.

Selain alam yang indah, senyum yang ramah dari penduduknya membuat kota tua ini selalu ramai dikunjungi oleh turis mancanegara. Masih banyak lagi tempat yang harus disingkap sayangnya bus antar kota sudah menanti untuk bergerak ke tempat lain di utara Vietnam. Tiga malam di Hoi An terasa begitu singkat. Semoga kota tua itu tetap lestari terjaga, tidak terlindas oleh kemajuan modernisasi.

Hoi An, aku akan kembali lagi pada mu.

“if you’re not willing to be changed by a place, there’s no point in going.” – Lao Tzu